DISINI KITA BELAJAR MENJADI ORANG INDONESIA SEJATI

“Kita Seperti Orang Asing Di Rumah Sendiri”

leave a comment »

Drs Rangkap I Nau
Ketua MBAHK Pusat Kalteng

“Kita Seperti Orang Asing Di Rumah Sendiri”

MESKI merupakan komunitas pertama yang mempelopori cikal bakal berdirinya
Propinsi Kalimantan Tengah tempo dulu, namun keberadaan warga Dayak yang
menganut agama Hindu Kaharingan seakan masih terpinggirkan.

Minimnya perhatian pemerintah pusat dan daerah seakan membuat masyarakat Dayak
Kaharingan terasing di rumah sendiri. Tidak heran, jika hingga kini mereka
terus berjuang untuk memperoleh perlakuan yang sama dari pemerintah seperti
halnya agama lain.

Berikut petikan wawancara singkat wartawan BPost, Norjani Aseran dengan salah
seorang tokoh yang juga Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK)
Pusat Kalteng, Drs Rangkap I Nau, kemarin.

Masyarakat Dayak Hindu Kaharingan merupakan pelopor di Bumi Tambun Bungai.
Bagaimana Anda melihat kondisinya saat ini seiring pesatnya perkembangan
disegala bidang yang dialami Kalteng?
Agama Kaharingan masuk dalam agama Hindu sebagai upaya mendapatkan legalitas
dari pemerintah karena banyak yang beranggapan salah dengan menyebut Kaharingan
sebagai aliran animisme atau dinamisme.

Kaharingan adalah agama yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa Ranying Hatara
Langit. Umat Hindu Kaharingan merupakan yang terbesar kedua di Kalteng, setelah
Islam dan menurut uraian statistik banyak berada di pedalaman. Namun diakui
umat Kaharingan di pedalaman mengalami sedikit kendala dalam hal kemajuan
dibanding masyarakat di perkotaan.

Selama ini bagaimana upaya mereka untuk maju dan sejajar dengan yang lain?
Khususnya dalam hal pendidikan, kesejahteraan dan peran serta politik.

Kita memang selalu berupaya diantaranya melalui rapat kerja Majelis Besar Agama
hindu Kaharingan (MBAHK) Pusat Kalteng. Dalam rapat kerja itu, secara otomatis
kita akan melakukan konsolidasi dengan seluruh jajaran termasuk yang ada di
kabupaten, resort hingga tingkat desa tentang kemajuan serta langkah
pengembangan Kaharingan.

Pendidikan kita memang tertinggal, khususnya di daerah pedalaman. Jadi dengan
otonomi daerah ini kita melakukan berbagai upaya diantaranya mencari solusi
tentang bagaimana mencetak guru dari Kaharingan.

Makanya, saat ini banyak umat Kaharingan yang masuk PGSD, Perguruan Tinggi dan
lainnya di kabupaten dan kota. Masalah pendidikan ini selalu kita upayakan,
baik pendidikan agama maupun yang lain.

Lantas, kendala yang dihadapi?
Letak geografis yang sangat luas sehingga sangat mempengaruhi dalam hal
pencapaian penyediaan anggaran yang belum berimbang. Saat ini kita masih
berharap dalam APBD yang bahkan sangat minim sekali untuk anggaran pendidikan,
buku-buku maupun tempat ibadah. Yang paling fatal, kita tak mendapat sepeserpun
bantuan dana dari APBN. Inilah kita melihat bagaimana gubernur kedepan untuk
memperjuangkannya.

Kalau agama lain dapat dana dari APBN bahkan dari luar negeri, tetapi kita
tidak dapat dana, bahkan dari negara sendiri. Padahal agama itu sentralistik
sehingga pemerintah pusat itu wajib bertanggungjawab, karena itu adalah hak
asasi kita sebagai umat beragama. Kita ini bukan warga negara ilegal, tetapi
justru putra asli Bumi Tambun Bungai. Tetapi seperti orang asing di rumahnya
sendiri.

Sejauh mana perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap keberadaan agama
Hindu Kaharingan?

Kalau kita melihat saat ini pemerintah pusat masih belum kelihatan perhatian
dan kontribusinya dalam pengembangan Kaharingan, khususnya dalam hal dana. Kami
hanya diperhatikan oleh gubernur dan bupati saja, dan itu pun sangat terbatas.
Ada kabupaten yang memang sungguh-sungguh tetapi ada juga kabupaten yang
memandang sebelah mata terhadap perkembangan agama kami.

Selama ini warga Hindu Kaharingan khususnya melalui kepeloporan Anda selalu
memperjuangkan perhatian dari pemerintah. Apa yang selama ini diinginkan
masyarakat Hindu Kaharingan dari pemerintah?

Kami harapkan agar ada tingkat struktur agama Kaharingan di pusat. Apapun
bentuknya terserah saja, apakah bidang atau apapun sebagai bentuk legalitas.
Misalkan di Dirjen Bimas Hindu nanti apakah dalam bentuk direktur, bidang atau
kasi sekalipun asalkan ada.

Dengan adanya legalitas tersebut maka secara otomatis nantinya Kaharingan juga
akan mendapat kucuran dana dari pemerintah melalui APBN. Dengan begitu bangsa
ini baru benar-benar adil. Kami berharap agar gubernur dan seluruh bupati dan
walikota memperhatikan kelangsungan agama Kaharingan baik dalam hal pengadaan
buku-buku agama maupun guru sesuai kebutuhan. Jumlah umat Kaharingan di Kalteng
mencapai 600.000 orang atau sekitar 25 sampai 30 persen jumlah penduduk.

Bagaimana upaya peningkatan SDM mereka?

Generasi muda serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Persatuan Wanita
Kaharingan hingga ke daerah mulai bergerak maju. Ini selalu kita upayakan untuk
peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) kedepan. Apalagi saat ini akan ada
kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mudah-mudahan benar-benar sampai,
sehingga mereka ini akan menjadi objek yang nantinya merasakan.

Masyarakat Hindu Kaharingan di pedalaman merupakan potensi besar bagi konsumsi
politik seperti saat pemilu lalu maupun pilkada nanti. Bagaimana Anda melihat
itu?

Kaharingan merupakan potensi besar dalam pilkada karena tak satu pun dari kami
yang mencalonkan diri sehingga suara kami benar-benar bulat. Kami warga
Kaharingan sudah menyatukan visi, misi dan satu sikap dalam memandang suatu
permasalahan, termasuk pilkada nanti.

Kami akan menilai siapa putra terbaik yang memberikan keadilan, perlindungan
dan kontribusi bagi pemberdayaan umat Kaharingan. Warga Kaharingan dibawah satu
komando baik melalui Majelis Besar maupun struktur Lembaga Festival Tandak.

Khususnya festival tandak sudah sangat memasyarakat layaknya agenda Musabaqah
Tilawatil Qur’an (MTQ) bagi umat Islam maupun Pesparawi bagi Umat Kristen yang
telah kami laksanakan bahkan hingga ke tingkat desa sehingga ini menimbulkan
rasa kebersamaan, keberpihakan, serta satu penderitaan. Saat ini memang ada
beberapa pihak yang mulai mendekati Kaharingan menjelang pilkada.

Seberapa besar peran masyarakat Hindu Kaharingan saat ini? Bagaimana keberadaan
dalam formasi pemerintahan di Kalteng?
Kita memang sangat kecil sekali dalam formasi pemerintahan baik di lingkungan
pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota. Karena memang sejak awal Kaharingan
ini baru era otonomi daerah ini mulai kelihatan dan dipandang serta diberi
porsi.

Bahkan sekarang pun dengan urutan umat terbanyak kedua pun orang tidak
memandang itu, karena format-format politik itu kan bisa direkayasa dan
dipaksakan. Makanya ini menjadi tantangan cukup berat bagi warga Kaharingan.

Karena itu dalam pilkada kali ini warga Kaharingan akan benar-benar teliti
dalam menentukan pilihan. Jangan terjebak pada pengalaman pahit selama ini.
Terlalu mahal perjuangan putra Dayak asli yaitu Kaharingan dalam pemilu
legislatif lalu, namun tidak diperhitungkan dan tidak terakses.

Nah, pengalaman inilah yang mendorong kami untuk menentukan sikap dalam memilih
kepala daerah. Kedepan, Kaharingan tidak bisa dipandang sebelah mata lagi,
karena kami akan menentukan sikap sendiri.
Bagaimana Anda menyiapkan kaderisasi umat Kaharingan?

Saya menyiapkan kader-kader Kaharingan baik di tingkat lini kabupaten maupun
kecamatan dan desa, baik mereka yang berpotensi sebgai ahli spiritual seperti
pendeta disiapkan melalui pelatihan.

Begitu juga kader-kader di bidang pemerintahan atau umum seperti ekonomi,
sosial dan politik sudah kita siapkan, jadi tinggal nanti menggunakan perahu
mana mereka mencapai tujuan. Keluarga kami saya sangat mendukung positif
perjuangan ini.

Saya sudah aktif di organisasi keagamaan sejak duduk di bangku SMA saat
bergabung dengan perkumpulan Kaharingan. Kemudian pada 1956 terbentuknya
Kalteng melalui Sarikat Kaharingan Dayak Indonesia, bahkan saat itu beberapa
tokoh kita yang ditahan di Banjarmasin.

Jadi Kaharingan memberikan kontribusi besar bagi terbentuknya Kalteng. Setelah
itu berdiri Majelis Alim Ulama Kaharingan dimana saat itu Kaharingan menduduki
posisi mayoritas pemeluknya di Kalteng.

Kemudian namanya berubah lagi menjadi Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan
hingga sekarang. Dengan kekuatan spiritual membuat kami tidak takut lagi dengan
kehidupan dan kematian karena kami berjalan dengan kekuatan iman dari Yang Maha
Kuasa dan kami mempunyai keyakinan bahwa ada kehidupan di alam sana nantinya,
tapi kami bukan animisme. *
Copyright © 2003 Banjarmasin Post

SOURCE : http://osdir.com/ml/culture.region.indonesia.ppi-india/2005-03/msg01538.html

Written by nyistupid

Januari 9, 2010 pada 3:59 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: